Tekan enter untuk melihat hasil dan esc untuk batal

When Im Getting Older: Winners Always Quit

5 min read

Banyak diantara kita menginginkan hasil yang sesuai rencana, mencapai titik-titik yang kita impikan dan menjadi seperti orang-orang yang kita kagumi. Bagiku pun sama, seseorang yang saat ini sedang dalam fase paling fluktuatif dalam hidup.Aku terpantik menuliskan cerita ini setelah menonton video di TedTalks yaitu Winners Always Quit dari Zahid Azmi Ibrahim seseorang yang bisa kalian riset namanya di Google. Zahid adalah seseorang yang memiliki passion dan antusias yang tinggi untuk hal-hal yang diimpikan, ia seseorang yang dipenuhi dengan keyakinan bahwa dia seorang pemenang.

Zahid sebelum memutuskan meninggalkan impiannya, ia tentu sudah bersusah payah mendapatkannya.

Zahid adalah satu diantara pemenang yang berhasil memenangkan hidupnya dari bermacam perspektif diluar dirinya. Roger Federer merupakan atlit tenis profesional dari Swiss yang sebelumnya sudah menghabiskan banyak waktu untuk bermain sepak bola sebelum memilih fokus pada Tenis. Kemudian ada Prof. Brian Cox yang memilih meninggalkan karirnya di musik profesional dan memilih menjadi seorang Fisikiawan yang menulis satu diantara bukunya yaitu The Quantum Universe. Mereka semua quit dari bidang yang awal digelitungi menuju ke bidang lain lagi.Kita bisa saja membuat hipotesa, mereka meninggalkan itu semua setelah mencapai titik tertinggi mereka dalam bidang tersebut. Jadi wajar mereka quitting?Namun nyatanya tidak, kita tidak perlu menjadi juara kemudian keluar. Kita tidak perlu memaksakan diri menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak membuat kita produktif. šŸ™‚

Kita bisa memiliki alasan yang sederhana seperti ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan keluarga, fokus mengurus organisasi yang kita miliki atau keluar dari suatu circle yang membuatmu tidak begitu produktif. So, anything could be that..

Professor Brian Cox ā€“ Dari Rock ā€˜nā€™ Roll ke Fisika Partikel

So, why do people quit?

Pastinya, sebelum kita berpikir berhenti kita sudah memiliki analisa yang reasonable. Sebelum kita memiliki alasan yang meyakinkan dan penuh pertimbangan maka bisa jadi keputusan quitting hanyalah dari kegelisahan sesaat yang berujung keputusan short term (jangka pendek) saja. Then, when should we quit and we stick? Lalu kapan sebaiknya kita berhenti dan bertahan? Sebab dengan mengetahui kapan dan kenapa kita harus berhenti akan menjadikan tujuan kita selanjutnya lebih jelas dan terukur. Tentu ini butuh sebuah pemahaman baik dari kondisi yang sedang kita rasakan, mengetahui apa yang kita butuhkan dan apa saja dampak yang terjadi atas keputusan yang ada.Steven Bartlett menyampaikan dalam tweetnya, bila apa yang kamu perjuangkan tidak membuatmu puas, tidak membuatmu produktif dan potensi masa depan yang kamu bayangkan berat untuk diraih maka berhentilah.Benar sekali, mengetahui apa yang kita butuhkan adalah skill dan hidup dengan keputusan yang kita yakini adalah bentuk kemerdekaan dalam hidup.Temukan hal lain yang kamu bisa gapai dengan energy, attention and resources yang kamu miliki.Dibanding kamu harus menghabiskan sisa energi yang ada untuk hal-hal yang tidak kamu nikmati dan banggakan.

When should you quit and when should you stick?

Tidak ada deskripsi teks alternatif untuk gambar iniBila apa yang kamu lakukan itu sulit dan tidak berharga untuk potensi yang kamu harapkan, maka keluarlah.Misal diantara kamu ada yang memiliki cita-cita untuk menjadi seorang pembasket professional, bermain di club international. Suatu ketika dalam kerja kerasmu, kamu mendapat musibah dengan jarimu patah dan membuatmu kesulitan bermain lagi. Apa kamu akan stick sebagai pemain basket atau berhenti untuk mencari potensi lain? Seperti sepak bola, bernyanyi bahkan menjadi scientist?Belajar Quitting Strategy akan membantumu melihat dan menemukan sejauh apa impianmu, sedalam apa kamu bisa mengukur pencapaianmu dan sebagaimana kamu menikmati semua itu? Mengetahui itu semua akan membuat be more realistic dan bisa memaksimalkan semua potensi yang kamu miliki untuk hidupmu yang trus berjalan.

I also did quitting.

Ternyata aku sejak lama seringkali melakukan quitting. Berpindah dari satu peminatan ke peminatan lainnya, pekerjaan ke pekerjaan lainnya. Hingga salah satunya baru saja terjadi.Akhir oktober 2021, aku memulai sesuatu baru untuk belajar bahasa inggris secara optimal dengan belajar langsung di pusat pendidikan bahasa inggris di Kampung Inggris, Pare, Kediri.Aku menghabiskan sekian bulan lamanya untuk belajar hingga pada tahun selanjutnya aku mendapat kesempatan menjadi tutor bahasa inggris.Menjadi seorang tutor ternyata awalnya yang susah. Hanya perlu beradaptasi dengan lingkungan baru dan menyesuaikan kemampuan sesuai dengan apa yang dibutuhkan.Aku begitu menikmati hari-hari yang ada, tempat tinggal yang sudah disiapkan, makan minum pun ada dan penghasilan yang ideal yang ditawarkan. Aku rasa tidak ada keluhan.

My productivity is getting lower

Aku mulai mencintai bahasa inggris sebagai rutinitas baru yang membuatku tanpa sadar kehilangan ketertarikan untuk hal-hal yang sudah kejalani jauh-jauh hari.Paling terasa saat produktivitas seperti menulis, membuat video dan berdiskusi dengan rekan-rekan komunitas kini tidak lagi ku lakukan padahal aku punya banyak waktu.Aku mulai menyadari bahwa rutinitas yang aku jalani juga dengan perlahan membunuh kreativitas yang ada. Aku menjadi kurang inisiatif dalam bersikap dan malas mempertimbangkan, akibat dari itu semua. Performance ku pun menurun sebagai seorang tutor di tempatku.Semakin aku paksakan mengembalikan suasana dan ritme yang ada namun nyatanya lebih dalam kejenuhan yang aku alami. Disitu aku merasa bahwa aku harus quitting.Tentu banyak factor selain diatas. Intinya aku tidak ingin terjebak dalam rutinitas yang membunuh produktivitasku.

I just need to be more realistic

Apakah ini yang aku inginkan? Ini yang aku dambakkan? Apa aku bangga dan menikmati ini semua? Nyatanya, aku tidak sepenuhnya menikmati rutinitasku terlepas dari semua fasilitas yang membuatku hampir terjebak di Zona Nyaman.

I’m quitting

Akhirnya, aku putuskan quitting dari pekerjaan sebagai seorang tutor camp dan aku tlah siap kehilangan semua fasilitas dan kenyamanan yang ada.Kita tentu banyak mendengar.

The Winners never quit or Quitters never win.

Namun aku tidak mau menjadi bodoh atas hidupku sendiri yang ku jalani.Selama ini kata-kata bijak mengatakkan.Pemenang tidak pernah berhenti.Aku tidak setuju bila itu tentang satu keahlian/pekerjaan yang harus kamu pertahankan mati-matiin. Aku akan setuju bila kamu berhenti berkarya maka kamu tidak akan jadi pemenang.Maka bagiku, berhentilah..

  • Berhentilah saat kamu sadar itu tidak baik lagi untukmu.
  • Berhentilah saat kamu sadar bahwa itu tidak selaras dengan ekspetasi masa depanmu.
  • Berhentilah saat itu sulit bagimu dan kecil bagimu dalam menjadikannya nyata.

Be realistic and considerable

Optimis dapat membawamu dengan hal-hal lain yang bisa kamu capai namun kamu butuh menjadi realistis untuk membuatmu menjadi pribadi yang seimbang dan penuh perencanaan.Kamu yang tahu seberapa besar sisa energi yang kamu miliki, maka akan kamu gunakan untuk apa energi itu? Kamu bisa memaksakan diri mengajar yang berpotensimu membuat burnout atau mencari peluang baru dengan sisa energi yang kamu miliki untuk berkarya? So, just make it easy.Finally, kita akan tiba pada hukum bahwa semua hal-hal yang pernah kamu coba di masa lalu akan mempertebal keilmuanmu. Itu yang disebut sebagai Breadibility, silahkan kamu riset sendiri. šŸ˜‰Terimakasih untuk semua rekan-rekan yang ada dalam thumbnail photo. I’ll be missing you. šŸ¤

id_IDBahasa Indonesia
Share via
Copy link
Powered by Social Snap