Press enter to see results or esc to cancel.

Seperti Cerita Kekaisaran Mongol..

Niki sato tumindi-tumindian masarakat babagan Kekaisaran Mongol sing diwreprésèntasikaké ing pangelingan duwé dua anak mudang kang tégoh saged nggayuh cinta marangé sepisanan karo waras lan tégoh.

Setelah sekian lama mempersiapkan diri, pemberani itu datang dari pengembaraannya menuju kampung yang diharapkan. Di tanah Mongol, calon pemimpin harus mulai menyiapkan dan mencari calon pasangan hidupnya saat berusia 9 tahun. Begitupun dengan lelaki itu, sebut saja namanya Temujin. Temujin besar dari keluarga pemimpin, ayahnya memiliki garis keturunan dari moyang Suku Mongol yaitu Genghis Khan. Menjelang wafatnya sang ayah (Pemimpin suku Borjigin saat itu), ia berpesan kepada Temujin untuk menggantikan dirinya dan menyatukan tanah Mongol di bawah naungan keadilan dan kesejahteraan.

Singkat cerita, Temujin saat berada di tanah pengharapan pun dengan Sang Pujaan Hati. Ialah Borte, seorang perempuan tangguh yang merupakan anak seorang pemburu dari suku Konkirat. Temujin saat pertama kali bertemu Borte saat mereka sama-sama berusia 9 tahun. Nampaknya Temujin (ketemuq) jatuh cinta pada pandangan pertama. Temujin berkata:

“Suruq ne tiang siq Amaq tiang mete pasangan, wah wayane niki tiang memiliki calon istri.” (Kata Temujin, ngode-ngode)

“Ketimbang de lalo gelamang lito-lite, tene be taok de mete Kakak.” (Jawab Borte sedikit merayu)

Temujin pun yang sudah memendam rasa cinta pada pandangan pertama bertekad untuk menjadikan Borte sebagai calon istrinya. Ia bercerita kepada Sang Ayah yang kemudian disetujui. Mereka lalu diikat dalam sebuah ikatan sakral, maupun Borte dan Temujin harus menjaga diri sebelum waktu dimana mereka dinikahkan secara adat.

Berjalannya waktu, masa tersulit dilalui Temujin saat ia kehilangan Sang Ayah, meski sangat terpukul namun Temujin tetap kuat berkat adanya Sosok Sang Ibu dan Saudara/i nya yang ada di kampung. Temujin seseorang yang rajin berdoa untuk meminta petunjuk dan itu merupakan pesan juga dari ayahnya dipenghujung khayat. Berkat Sang Maha Segalanya, Temujin diberkahi perlindungan hingga ia beranjak dewasa dan siap menikah. Ia pun kembali ke kampung asalnya.

Jauh berkelana, memperkaya diri diberbagai tempat untuk bekerja, mengabdi, dan belajar menjadikan Temujin sosok yang terbuka dan ber empati. Lama berjalan jauh, akhirnya Temujin teringat untuk kembali ke kampung Borte.

Dalam pertemuan yang hening dibawah pohon kulur ditemani suara tengkereq.


“Borte, wah laek tiang lalo, sekian taun. Niki ne datang wayane. Keh donggg..” (Temujin bersikap manja)

“Keh ngumbe kakak? Ndek tiang paham.” (Borte sedikit bingung)

“Masak siq ngeni-ngeni ndk de paham, Arik. Be wah wayane ine tee.. Tee bercocok tanam. ” (Tambah Temujin)

“Nenalet ape, Kakak? Sampun ndek tiang paham maksud de, ne jelas isiq. ” (Sambung Temujin)

“Te memiaq Baby kan, wah bau kan te bertukar sumber daya.” (Temujin berbicara sambil salting)

“Ndek ne man bau, Kakak. Ndek te man sah, kan ndek te man merariq.” (Borte mengingatkan)

“Nggih keh ngeno je, tiang ngeraos kance keluarga de juluk, Arik. ” (Tutup Temujin)


Mereka pun berpisah sejenak, Temujin membahas tentang ikatan yang dilingkarkan melalui keluarga Temujin dan keluarga Borte. Temujin mengingatkan, kala itu ia datang dari keluarga besarnya untuk mencari pasangan untuk Temujin, kemudian terpilih Borte. Keluarga Termujin yang diwakilkan oleh Pembayun (Jubir Keluarga, sebut saja namanya Deni) yang saat itu adalah kakak kandung dari Temujin yang tidak biasa berbicara di khayalak umum. Nampaknya itu menjadi lelucon keluarga hingga hari ini, di saat Pembayun tersebut keringat dingin saat menyampaikan tujuan kedatangan keluarga.

Kedatangan terakhir, saat bersama pasukkan lebih besar lagi. Keluarga Temujin datang menuju kediaman Borte membawa harta seserahan berupa sandang, pangan dan papan sebagai perwujudan rasa keseriusan dan hormat kepada keluarga besar Borte. Acara hari itu dilalui dengan kehangatan keluarga, ditutup dengan dokumentasi bersama.

Tidak ada Gendang Beleq dan Kecimol menemani dalam prosesi ini. Hanya shalawat dalam hati yang tergetarkan mengingat bahwa sebentar lagi keluarga besar yang kelak dalam satu kerajaan besar akan besar dalam sejarah akan menyatu.

Kedua keluarga pun merayakan … (Bersambung)