Tekan enter untuk melihat hasil dan esc untuk batal

(FOMO) Overthinking & Cepet Tersinggung, Gangguan Anak Muda Masa Kini

5 min read

Hari semakin siang namun kamu merasa gelisah. Kamu ingin menghabiskan sepanjang hari dengan scrolling instagram dan facebook. Kamu melihat seorang teman yang mengupload gambar dengan keterangan nge-grill di Pantai Pink, yang lainnya ada yang sedang menikmati sunset di Sembalun, Sang Desa Sejuk. Hingga seterusnya tak terhitung kamu scrolling stories teman-temanmu yang menyenangkan dan impressive, kegelisahanmu semakin terasa — dan berasa.

Emosi yang terjadi padamu akan sulit untuk dapat disampaikan, itu seperti kombinasi aneh dari pengucilan, bosan, benci pada diri-sendiri, iri, dan takut. Saat kamu merasa takut, itu lumrahnya hal biasa namun bagaimana bila kamu punya ketakutan hingga gelisah pada banyak hal yang terkadang “konyol”, sepertinya aneh bukan?

Saat kamu punya kekhawatiran berlebih ketinggalan sebuah info tongkrongan kamu atau mungkin kamu akan merasa gelisah saat kelewatan momentum dari pertemananmu?

Yuk pikirkan sejenak kapan terakhir kamu kepikiran banget hanya karena kamu tidak dikabarin oleh teman-temanmu.

Siapa saja yang punya kecendrungan ini berlebih bahkan pada hal-hal yang seharusnya tidak perlu untuk dikhawatirkan, maka bisa jadi ia sedang mengalami penomena yang secara pyschology disebut FOMO. FOMO bukanlah makhluk tapi ia bisa hidup di pikiran kita selamanya.

FOMO (First Out Missing Out) adalah suatu kondisi dimana seseorang takut dikatakan tidak update, tidak gaul, dan takut ketinggalan berita yang sedang santer.

To help define the concept, John M. Grohol of Psych Central captured the urgency of FOMO when he defined the social media and PSYCHOLOGICAL PHENOMENA. He stated that FOMO is “the potential for simply a different connection. It may be better, it may be worse — we just don’t know until we check.”

Sumber: https://online.king.edu/news/psychology-of-fomo/

FOMO merupakan penomena lintas usia dan kelompok, siapa saja bisa mengalaminya khususnya generasi milenial dan zilenial. Kondisi ini utamanya dipicu karena distraksi berlebih pada media sosial. Riset lain juga menunjukkan FOMO dapat disebabkan oleh Nomophobia (No Mobile Phone Phobia) atau ketergantungan terhadap gadget.

Ironisnya, penderita ini tidak menyadari dirinya yang sedang mengalami gangguan tersebut. Penderita FOMO menjadi gelisah dan caper sehingga membuat mereka mengupdate informasi secara tidak jujur hanya demi terlihat update, mereka merasa akan tetap membandingkan diri dan seringkali hanya berujung insecurity istilah populernya ialah The Grass is Greener Syndrome.. Kecendrungan ini mengarah pada cari sensasi dan kebahagiaan yang ditunjukkan dalam media sosial secara palsu.

Grass is Greener Syndrome is if you say the grass is greener somewhere else, you mean that other people’s situations always seem better or more attractive than your own, but may not really be so. He was very happy with us but wanted to see if the grass was greener elsewhere.

Sumber: https://www.collinsdictionary.com/us/dictionary/english/the-grass-is-greener

FOMO erat kaitannya dalam kehidupan sosial, kita menjadi mudah tersinggung, gelisah hingga overthinking berujung depresi. Tidak hanya gelisah, FOMO dapat menurunkan kepercayaan diri, ketenangan, menurunkan harapan hidup serta kestabilan ekonomi negara. 😀

Lalu semudah apa untuk mendeteksi gangguan ini pada diri sendiri?

Bisa saja akan sangat sulit, terlebih bila kita tidak punya banyak waktu untuk memahami diri sendiri. Sebab, untuk mengetahui kita memiliki gangguan ini sama halnya kita coba merasionalkan perasaan yang kita miliki, pasti tidak mudah tapi bisa. Perasaan merupakan objek yang sulit untuk dijustifikasi, sebab itu kita amat sensitif akan perasaan.

Analoginya, seperti kangen. Kita bisa bilang, kita sedang kangen tapi apa kita tahu persis kenapa kita bisa kangen? Apa karena jarak? Tentu tidak. Apa karena pertemuan yang tidak kunjung terjadi dalam waktu lama? Tidak juga, sebab kita bisa merasa kangen sesaat setelah berpisah. Begitu pun, rasa takut dan gelisah dari FOMO, kita bertanya apa sebenarnya yang membuat kekhawatiran berlebih ini hadir? Karena merasa insecure atau ketergantungan terhadap sesuatu? Alasannya bisa sangat random. Sesulit itu untuk merasionalkan perasaan, areanya terlalu ‘abu’ untuk bisa di hitam putihkan.

Dan tentu, perasaan yang dirasa hanya kita yang rasakan. Maka, it depends on you. Sedalam apa kamu sudah bisa memahami diri sendiri.

Lalu, apa ada cara sederhana untuk mendeteksi kita memiliki gangguan ini? Berdasarkan beberapa artikel yanga ada, berikut beberapa kecendrungan yang terjadi pada penderita FOMO.

  1. Mudah gelisah, gelisah dengan hal-hal yang seringkali tidak penting bagi seperti tidak dapat update terbaru dari KPOP idolanya, ketinggalan info liburan bersama, tas branded keluaran baru, hingga berita dan video kontroversialnya.
  2. Mudah tersinggung, dalam kehidupan sosial akan sering merasa dikucilkan, dijauhkan dan dibatasi seperti saat ada pesta namun ia tidak diajak, kemudian ada photo kegiatan dari teman-temannya dan ia sadar bahwa ia tidak diberitahu. Maka, ia akan merasa tidak dianggap, jauh dan terbatasi dari lingkaran pertemanannya.
  3. Paranoid, biasanya kita sebut parno. Berubah mood secara drastis dan bertingkah berlebihan terhadap hal-hal konyol disekitarnya secara sosial ataupun dari media sosial kemudian mudah masuk ke dalam obrolan gosip dan biasanya yang paling keras ngomongnya saat,“ih iyaa deh. Wah kok bisa-bisanya ya. blablablaa..” 😀

Itu 3 hal yang bisa menjadi standar sederhana untuk deteksi dini apakah kita memiliki gangguan ini atau tidak. FOMO menyumbang besar dalam kepercayaan diri (Self-Confident) dan ketidak nyamanan (Insecurity). Ada 10 hal lainnya yang bisa kamu baca disini.

Akhir kata..

FOMO dalam ruang lingkup kerja dan Tim. FOMO sangat erat hubungannya dengan Self-Serving Bias, kondisi untuk melayani diri sendiri lebih dari yang lainnya karena FOMO dan Self-Serving Bias menyangkut harga diri (Self-Esteem). FOMO termasuk tipe yang obsesif pada urusan-urusan sosial yang membuatnya sering tidak tenang dan menderita kegelisahan.

If you ask teens if they experience social media anxiety, most would answer no. But what they do not realize is that if they are stressed or worried about what they see online, then they are likely experiencing FOMO, especially if they are online a lot.

Sumber: https://www.verywellfamily.com/how-fomo-impacts-teens-and-young-adults-4174625

FOMO bukanlah penyakit (disease) melainkan ke mental disorder, penomena ini menjadi trend secara epidemik di era sekarang karena addiction dari gadget. Tidak mudah untuk menyampaikan apa yang terjadi pada diri sendiri, apalagi menceritakan gangguan yang kita alami. Maka keberadaan orang-orang tersayang sangat besar perannya dalam situasi ini.

Baca juga:

Self-Serving Bias: Gagal Intropeksi Diri atau Sekedar Self-Promotion?

Bagi kita yang sudah mengetahui gangguan ini, sepertinya kita perlu melakukan Self-Escape dulu, keluar dari hiruk-pikuk dan ke chaosan aktivitas duniawi 😀 dan nikmati kebahagiaan terdekat di sekitar kita yang tidak harus dengan gadget tentunya.. 🙂

Maka, harapannya dengan membaca ini kita semua bisa lebih banyak memahami diri, berkontemplasi dan perbanyak “Me Time“. 🙂

Harry Sunaryo

An IT Enthusiast. Founder Sanggar IT Lombok & Agromina.id. System Analyst. Android Programmer. IT Consultant. Writer on Lombokit.com.

Yunita Alfiana Aziza

Public Relation. Women Equality Advocate. Founder & CEO YAA Production. Writer on blog.lombokit.com

http://blog.lombokit.com

id_IDBahasa Indonesia
Share via
Copy link
Powered by Social Snap