Tekan enter untuk melihat hasil dan esc untuk batal

Self-Serving Bias: Gagal Intropeksi Diri atau Sekedar Self-Promotion?

2 min read

Masih hangat-hangatnya terdengar ditelinga saya, datang dari sebuah video yutub yang salah satu pembahasannya menyebutkan tentang ini: Self-Serving Bias.

Dalam psikologi, kecenderungan ini merupakan bentuk yang paling umum dari sebuah bias yang dinamakan selfserving biasSelfserving bias adalah proses persepsi atau kognisi yang mengalami bias atau distorsi akibat kecenderungan untuk melayani (serve) diri, dalam arti mempertahankan dan memperkuat harga diri.

Seseorang yang hidup didunia ini, saya yakin pernah dan akan mengalami fase ini. Bukan karena sikap ini menular namun sikap manusiawi kita sebagai manusia yang ‘ingin’ lebih dari yang lain. Self-serving bias sederhananya adalah fase kita merasa lebih berhak, pantas diakui, dipilih, diperhatikan dan diberi kesempatan dibanding orang lain. Kondisi ini menggambarkan sikap kita seseorang untuk menaikkan harga dirinya (Self-esteem).

Harga diri adalah pandangan keseluruhan dari individu tentang dirinya sendiri. Penghargaan diri juga kadang dinamakan martabat diri atau gambaran diri. Misalnya, anak dengan penghargaan diri yang tinggi mungkin tidak hanya memandang dirinya sebagai seseorang, tetapi juga sebagai seseorang yang baik.

Contoh kecil dari sikap ini dapat kita temukan dikehidupan sehari-hari: sekolah, kampus, keluarga, kampung hingga ruang tongkrongan. Saat seseorang menganggap peran dan keberadaannya lebih baik dibanding yang lain semata-mata untuk meninggikan derajat manusiawinya dihadapan yang lain untuk mempertahankan.

Sikap ini dapat dimaklumi sebagai bagian dari perjalanan seorang insan menemui jati dirinya. Kita semua ‘mungkin‘ akan sama melewati fase ini, namun berbeda dalam berapa lama waktu menjalaninya. Cara terbaik yang dapat dilakukan untuk melewati fase ini dengan memperbanyak intropeksi diri, mengukur kualitas diri dan arah diri sejauh ini. Apakah mengalami kemunduran atau kemajuan. Kemudian kita uji pribadi kita dari sisi ketaatan (ibadah), pengendalian diri (self-managing), cara pandang, kesabaran dan konsistensi (keistiqomahan). Semua kualitas diri dapat kita petakan dari fase ke fase dan ini menjadi jalan yang “terang” agar kita tidak tersesat dalam keterbiasaan dari sikap Self-Serving Bias.

Memanfaatkan lingkaran perteman sebagai counter (pengecek) dalam perubahan & kualitas sikap yang kita alami. Melalui Circle Check misalnya, seorang dapat berbagi uneg-uneg, ketidaksukaan hingga kebencian dari seseorang lainnya dalam lingkaran pertemanan tersebut. Setiap orang dalam lingkaran dapat menyampaikan sepuasnya secara bergantian untuk mengoreksi sesama, satu-persatu. Aturan mainnya yang baku tidak boleh ada sanggahan dari siapapun, semua yang disampaikan harus diterima, benar maunpun tidak menurut penerima. Tidak boleh ada pemotongan penyampaian dari siapapun dan semua mendapat bagian untuk dikoreksi.

Ilustrasi dari Circle Check diatas merupakan salah satu cara ampuh untuk meningkatkan motivasi diri dalam berbenah atau tool terbaik untuk intropeksi diri. Semoga Bermanfaat.

Harry Sunaryo

An IT Enthusiast. Founder Sanggar IT Lombok & Agromina.id. System Analyst. Android Programmer. IT Consultant. Writer on Lombokit.com.

Yunita Alfiana Aziza

Public Relation. Women Equality Advocate. Founder & CEO YAA Production. Writer on blog.lombokit.com

http://blog.lombokit.com

id_IDBahasa Indonesia
Share via
Copy link
Powered by Social Snap