Tekan enter untuk melihat hasil dan esc untuk batal

Beautiful Is White. Right ?

6 min read

Disclaimer

Sebelum itu penulis ingin menyatakan bahwa “saya bukan orang yang LEBIH PINTAR ataupun LEBIH TAHU”. Siapapun berhak menuangkan idenya dalam tulisan ini. Kita jadikan wadah ini untuk sedikit tidaknya memanfaatkan akal pikiran yang sudah diberikan Tuhan untuk kita.

All About White

Berbicara tentang putih mungkin sudah melekat dalam pikiran kita bahwa warna tersebut menandakan kesucian, keabadian, kebaikan, bahkan pada dasarnya sesuatu yang putih adalah hal yang diagung-agungkan. Ada baiknya kita perlu menelisik siapa sebenarnya yang pertama kali menetapkan bahwa putih itu mengarah kepada hal-hal yang dianggap sakral. Bagaimana kalau hari ini penulis menetapkan bahwa putih itu adalah keburukan, kesengsaraan, dan kegelapan. Bisakah semua masyarakat menerima pernyataan tersebut ? Ya, hal tersebut mengganggu pemikiran penulis untuk menuangkan makna dari putih itu sendiri. Membingungkan memang mengapa putih perlu dibuat suatu tulisan, padahal hanyalah sebuah warna. Namun terkadang sesuatu hal yang kita anggap biasa namun justru luar biasa untuk kita bahas. Penulis mengajak semua untuk kritis dalam segala hal. Misalnya dengan judul bahasan kita kali ini “All About White”.

Tulisan ini hadir untuk mengulas kembali hasil bedah buku yang berjudul “putih” dengan pengarang Luh Ayu Saraswati.

Bernostalgia mengingat ketika Indonesia di jajah oleh Belanda dan Jepang. Orang-orang barat tersebut berkulit putih dan bersih. Mereka cantik dan tampan dengan warna kulit yang mereka miliki. Dimana pada saat itu merekalah yang berkuasa atas masyarakat pribumi yang memang memiliki kulit sawo matang. Orang-orang berkulit putih selalu berada di atas, menjadi pemenang di tanah Indonesia. Sehingga beranggapan bahwa orang-orang yang memiliki kulit putih memang selalu menjadi pemenang dan patut untuk diperhitungkan dalam setiap hal. Sedangkan mereka yang memiliki kulit tidak putih dianggap suram bahkan tak terlihat oleh kebanyakan orang. Perempuan seakan-akan ditekan untuk cantik dengan memiliki kulit yang terang. Sekarang penulis ingin bertanya. Apakah kalian menyetujui hal tersebut ? katakan saja jangan sungkan.

Hal tersebut seakan-akan sudah mendarah daging dalam pemikiran kebanyakan orang. Menganggap mereka yang tidak memiliki kulit putih bisa diperlakukan sesuka hati bahkan dicemooh tanpa henti. Banyak sekali permasalahan di Indonesia ini terkait warna kulit putih yang sangat mengagumkan itu. KATANYA. Mari kita kembali mengingat persoalan selebriti tanah air yang melibatkan permasalahan ras warna kulit terhadap orang papua. Dimana permasalahan tersebut sempat menjadi viral dikalangan masyarakat yang dimana masyarakat papua tidak terima akan perlakuan yang diterimanya. Wajar saja mereka tidak terima. Karena memang menyinggung perihal fisik mengandung sentimental yang teramat besar. Bukan menyangkut 1 personal namun banyak. Sehingga memang banyak sekali permasalahan-permasalahan rasis yang terjadi di Indonesia ini. Mungkin bukan hanya permasalahan itu saja yang terjadi namun masih banyak lagi permasalahan terkait warnaisme yang menyebabkan rasisme. Sehingga dalam bertutur kata haruslah hati-hati. Dalam bukunya Deddy Mulyana yang berjudul Ilmu Komunikasi sebagai suatu pengantar dalam prinsip-prinsip komunikasi bahwa komunikasi itu bersifat irreversible. Tidak dapat diulang dan ditarik kembali. Sehingga ketika membuat perasaan orang terluka apa yang sudah kita katakan tidak bisa ditarik kembali.

“To forgive but not to forget.”

Kita bisa memaafkan tapi tidak bisa untuk melupakan. Maka hati-hati ketika bertutur kata. Your mouth your tiger. Bukankah dalam agama mengatakan bahwa manusia adalah sebaik-baiknya ciptaan Allah SWT ?

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”

(Q.S At-Tin (95) : 4)

Lantas apa yang perlu dirisaukan ? apa yang ada dalam dirimu berharga. Oleh karena kamu berharga maka cintai dirimu sendiri.

Perempuan Indonesia pun bisa dikatakan selalu mendambakan kulit yang berwarna putih. Berlomba-lomba menjadi putih untuk terlihat cantik di mata manusia. Benarkah begitu ? apakah sesuatu yang putih memang selalu menarik untuk dilihat ? melakukan suntik pemutih, membeli produk kecantikan supaya bisa terlihat putih dalam waktu sekejap. Lucu memang negeri ini. Sebegitu jatuh cintanya dengan kulit putih. Padahal sebenarnya orang-orang barat sangat menyukai warna kulit orang Indonesia. Saya tidak mengatakan bahwa memiliki kulit putih tidak diidamkan oleh mereka yang kita sebut perempuan. Namun disini mari kita renungkan kembali, kenapa harus putih ? bagaimana dengan orang-orang yang kulitnya tersiram air panas ? kulit yang memiliki gangguan dan sulit untuk disembuhkan. Kita sebagai manusia lebih banyak memandang langit daripada memandang tanah. Dalam kehidupan memang perlu melihat atas, depan, belakang, samping maupun bawah. Dengan memandang keatas kita bisa termotivasi untuk menjadi lebih baik (sifat dan tingkah laku) no more else. Melihat depan mengajarkan kita bahwa hidup ini terus berlanjut, jangan stagnan dalam hal yang itu saja. Kita setara. Sama sama makan nasi toh. Memandang ke bawah untuk mengingatkan kita bahwa ada hal yang nyatanya perlu untuk kita syukuri dalam setiap apapun itu. Karena sebenarnya dalam hidup itu kita hanya perlu belajar ikhlas. Ikhlas itu sulit. Tapi kalau tidak ikhlas sakit. Hayoo pilih mana ? ikhlas dan bersyukur atau masih insecure dengan diri sendiri ?

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah,”

(QS. Al-Mu’minun : 12)

Dari ayat itu pun Allah sudah mengatakan bahwa manusia terbuat dari saripati tanah. Apa yang perlu dipikirkan lagi ? ujung-ujung nya balik lagi ke tanah. Daripada sibuk untuk memutihkan kulit lebih baik upgrade potensi, sikap dan tingkah laku yuk. Melihat pemandangan tersebut mengakibatkan Indonesia memproduksi produk kecantikan dengan label “mampu mencerahkan, memutihkan”. Menjadi incaran bagi kalangan muda untuk merubah warna kulitnya. Sehingga produk kecantikan untuk memutihkan memang banyak sekali dijual di masyarakat.

Dalam Ilmu Komunikasi dengan mengikatkan Hypodermic Needle Theory hal tersebut memiliki ketersinambungan dengan media. Dalam teori tersebut biasa disebut dengan teori jarum suntik atau peluru. Teori ini mengatakan bahwa komunikator (media massa) memiliki peran yang sangat kuat kepada komunikan (masyarakat). Mereka mengganggap komunikan adalah masyarakat yang pasif dan hanya mampu menerima saja sehingga pada dasarnya dianggap aliran satu tahap (one step flow). Contohnya iklan dari produk kecantikan dengan menampilkan artis yang memang pada dasarnya sudah memiliki kulit yang putih, wajah yang cerah serta penampilan yang menarik. Sehingga ketika menonton iklan tersebut komunikan langsung jatuh cinta dengan apa yang mereka tonton. Hal ini juga bisa dikatkan dengan teori stimulus-respon. Ketika diberikan sentuhan akan mengakibatkan gerak refleks secara spontan. Apalagi jika disuguhkan dengan iklan tersebut setiap hari. Darisanalah framing media terbentuk. Media membentuk pola pikir masyarakat terhadap sesuatu hal. Kemudian penggunaan teori kedua yaitu agenda setting theory  yang  dimana mengatakan bahwa media mampu membuat audience percaya atau menganggap penting informasi yang mereka sampaikan. Penerapan teori ini melakukan pengkajian sebelum memutuskan informasi yang disampaikan. Sehingga bisa dijadikan contoh bahwa pihak penjual kosmetik tentunya terjun dulu kelapangan untuk melihat masyarakat Indonesia menyukai produk seperti apa dengan kelebihan-kelebihan yang mereka inginkan. Dengan hal tersebut karena masyarakat Indonesia sangat menyukai produk yang memiliki kandungan untuk membuat wajah terlebih lebih cerah maka media pun men-setting hal tersebut untuk mendapat respon dari masyarakat. Tentunya dengan melakukan teori jarum suntik itu juga. Nah dari sini sudah pada mengerti tidak ? sebagai komunikan yang cerdas harus pintar memilih informasi.

Summary

Saya tidak mengatakan bahwa putih itu cantik atau tidak. Namun mari kita berspekulasi terhadap pemikiran masing-masing setelah membaca hal di atas. Masihkah kita menggap hal yang selalu putih sudah pasti cantik ? Jawab sendiri aja deh. hihi

Harry Sunaryo

An IT Enthusiast. Founder Sanggar IT Lombok & Agromina.id. System Analyst. Android Programmer. IT Consultant. Writer on Lombokit.com.

Yunita Alfiana Aziza

Public Relation. Women Equality Advocate. Founder & CEO YAA Production. Writer on blog.lombokit.com

http://blog.lombokit.com

id_IDBahasa Indonesia
Share via
Copy link
Powered by Social Snap