Tekan enter untuk melihat hasil dan esc untuk batal

Cerita Singkat di Rumah Mamiq

2 min read

Siang gerimis nan langit hitam pucat menemani perjalanan pulang seusai menuntaskan kewajiban mengajarkan ilmu yang dititiskan Tuhan kepada saya untuk anak-anak SMK di desa ajan, loyok.

Lelah yang tak berkeringat bercampur keraguan melengkapi perasaan karena sangat tampak hujan kan turun. Dengan alasan tu akhirnya saya memutuskan untuk beristirahat saja dirumah disalah seorang warga di Lendang Nangka yang biasa saya panggil mamiq dan beliau merupakan seorang budayawan dan tokoh masyarakat inspiratif. Sekali dayung dua tiga pulau terlewati, saya juga rindu bertemu beliau, rindu berbincang dan berdialektika. Selalu ada hal baru: Konsep, pengalaman, metode, pemahaman yang bisa saya petik saat berdialog dengannya sehingga saya berharap nanti, penantian menunggu langit cerah berbuahkan pengetahuan baru yang terserap saat bertemu beliau.

Sampailah di rumah beliau, sesejuk suhu rumah beliau seperti itulah sambutannya kepada saya. Ada yang aneh sampai sekarang saya rasakan setiap kali menginjakkan kaki dirumahnya, setiap langkah kaki saya ditemani pertanyaan yang selalu sama. Bagaimana mungkin rumah ini selalu terasa sejuk walau dinginnya hujan dan panasnya paparan mentari diluar? Bangunan tua yang memberi kesejukan kepada setiap orang yang mengunjunginya, arsitektur yang bersahaja dan komposisi bangunan yang begitu kuat karena bangunan tersebut sudah ada sejak zaman belanda.

Duduk di kursi kayu dan mamiq persis berada disebelah kanan saya. Biasanya adap bertamu dan memulai percakapan tentu menanyakan kabar satu sama lain. Alhamdulillah, beliau menjawab sehat wal afiat saat itu. Perbincangan saya mulai dengan pembahasan subtantif terkait bencana alam yang sedang kita alami di gumi lombok khususnya. Sejak diatas motor saya sudah menyimpan topik ini yang akan siap saya tanyakan ketika sudah bertemua beliau nanti.

Mengapa saya menanyakan hal seperti itu kebeliau? Apakah beliau seorang ilmuan atau seorang peneliti ? Beliau memiliki keduanya. Saya tau beliau itu orang berilmu, beliau juga seorang peneliti yang cerdas dan sekaligus budayawan yang bijak. Saya melihat pandangan beliau itu selalu unik, mudah dicerna, berbobot dan rasional. Beliau mampu memceritakan dengan detail bagaimana fase kerajaan selaparang berkuasa di gumi lombok, dengan fasih beliau akan menjelaskan kebudayaan yang ada lengkap dengan sebab dan penerapannya. Beliau mampu menyampaikan semua keadaan dengan detil berdasarkan referensi beliau.

Beliau nampaknya memang seorang yang tidak pernah puas belajar, apa yang saya tanyakan dan coba diskusikan selalu mampu beliau masuki dan memberikan persepsinya. Memang tidak begitu lama saya mengenal beliau namun bawaan beliau selalu memberi kehangatan dan rasa senang saat bertatap bersamanya. Maaf miq saya menuliskan tentangmu.

Harry Sunaryo

An IT Enthusiast. Founder Sanggar IT Lombok & Agromina.id. System Analyst. Android Programmer. IT Consultant. Writer on Lombokit.com.

Yunita Alfiana Aziza

Public Relation. Women Equality Advocate. Founder & CEO YAA Production. Writer on blog.lombokit.com

http://blog.lombokit.com

id_IDBahasa Indonesia
Share via
Copy link
Powered by Social Snap